Nama : Farah Indah Lestari
NPM : 22211694
STRATEGI PENDEKATAN KEBUTUHAN POKOK
Pendekatan kebutuhan pokok (pendekatan K-P) untuk pembangunan
menarik perhatian kalangan pejabat pemerintah, di samping kalangan yang sejak
lama bersikap kritis terhadap pola pembangunan yang berlangsung hingga kini.
Pembangunan sekarang terutama dikritik karena pembagian hasilnya ternyata
kurang merata. Artinya, lebih menguntungkan golongan yang berpendapatan tinggi
dan lebih menguntungkan penduduk kota. Pendekatan kebutuhan pokok disambut baik
oleh kalangan luas, sewaktu gagasan ini secara resmi diajukan pada Konperensi
Kesempatan Kerja Dunia yang diselenggarakan oleh Organisasi Perburuhan
Internasional (ILO) di tahun 1976.
Namun di pihak lain banyak juga kritik
dilontarkan terhadap gagasan ini. Suatu kritik yang sering dilontarkan terhadap
pendekatan K-P adalah bahwa pendekatan ini hanya mengutamakan konsumsi dan
bukan investasi. Karena itu menghambat pertumbuhan ekonomi. Dikatakan pula
bahwa pendekatan K-P pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan
'negara kesejahteraan' welfare state di negara berkembang, yang terbatas
kemampuan dan persediaan sumber dayanya. Berarti Realokasi Pendekatan K-P
memang sangat menekankan pemenuhan kebutuhan pokok seluruh penduduk dalam kurun
waktu yang relatif singkat, yaitu satu generasi. Karenanya ia berbeda dari model
pertumbuhan kapitalis maupun Marxis. Keduanya mengutamakan investasi dan
pertumbuhan ekonomi melalui ditekannya tingkat konsumsi. Kesan bahwa pendekatan
K-P tidak mementingkan pertumbuhan ekonomi kadang juga timbul karena ucapan
beberapa penganutnya, seolah-olah pemenuhan kebutuhan pokok dapat tercapai
melulu melalui redistribusi pendapatan dan kekayaan yang ada. Seolah-olah tanpa
memerlukan pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Namun keliru sekali jika orang
mengira bahwa pendekatan K-P merupakan model pembangunan yang pada dasarnya
bersifat 'anti-pertumbuhan ekonomi'. Pertumbuhan ekonomi yang pesat justru
sangat diperlukan untuk peningkatan produksi barang dan jasa kebutuhan pokok.
Diharapkan, bahwa dengan produksi barang dan jasa kebutuhan pokok yang terus-menerus
meningkat, kemiskinan absolut (dalam arti kata terdapatnya sebagian penduduk
hidup di bawah garis kemiskinan tertentu) dapat dihapuskan. Di samping itu juga
akan terhapus kemiskinan relatif, yaitu ketimpangan dalam pembagian kekayaan
dan pendapatan antar golongan. Dengan demikian maka pelaksanaan strategi K-P
bukan berarti mengabaikan pertumbuhan ekonomi dan mengutamakan redistribusi
kekayaan dan pendapatan, tetapi reorientasi arah dan pola pertumbuhan ekonomi
ke peningkatan produksi dan distribusi barang dan jasa kebutuhan pokok. Hal ini
tentu berarti pula realokasi sebagian besar (bukan semua) sumber daya
produktif. Artinya, prioritas tak lagi pada proyek investasi yang padat modal
di sektor modern, yang sangat ditekankan dalam strategi pertumbuhan ekonomi
yang konvensionil.
Alokasi lebih diarahkan ke sektor penghasil barang dan jasa
kebutuhan pokok yang lebih padat karya dan lebih menghemat dalam pemakaian
modal. Pilihan Teknologi Kritik lain yang berkaitan dengan kritik pertama
adalah bahwa strategi K-P hanya "mengekalkan" keterbelakangan
ekonomi. Strategi itu dianggap mengutamakan produksi barang konsumsi, dan bukan
barang modal. Juga dianggap mengutamakan penggunaan teknologi padat karya yang
dianggap usang dan bukan teknologi modern yang padat modal. Strategi K-P memang
menekankan produksi serta distribusi barang konsumsi dan jasa kebutuhan pokok.
Namun komposisi barang konsumsi dan barang modal yang dihasilkan begitu pula
teknik produksi yang digunakan di sesuatu negara, akan tergantung pada kondisi
khas yang terdapat di negara itu. Karena ini lebih tepat untuk mengatakan bahwa
strategi K-P mengutamakan teknologi yang "patut" (appropriate
teknologi). Atau, dalam kata-kata Prof. Hans Singer dari Sussex, 'teknologi
yang secara rangkap dianggap patut' (doubly appropriate technology). Artinya
teknologi baru, yang disesuaikan dengan kondisi khas di sesuatu negara dan yang
menunjang pelaksanaan strategi K-P. Dengan begitu strategi K-P tidak berarti
penggantian menyeluruh teknologi padat-modal dengan teknologi padatkarya.
Di
suatu negara berkembang mungkin ada kondisi, yang menyebabkan penggunaan
beberapa teknologi padat modal bagaimanapun juga lebih efisien daripada
teknologi padat karya. Dengan demikian yang diarah ialah kombinasi optimum dari
teknologi padat modal dan padat karya. Ini akan ditentukan pula oleh
pertimbangan efisiensi dan keuntungannya bagi masyarakat --syarat yang sudah
semestinya digunakan sebagai ukuran dalam penentuan investasi. Dengan
pendekatan yang selektif ini maka teknologi padat-karya diutamakan di setiap
bidang, dalam hal penggunaannya efisien dan menguntungkan masyarakat.
Sasarana dari strategi ini adalah menanggulangi kemiskinan
secara masal. Strategi ini selanjutnya dikembangkan oleh Organisasi Perburuhan
Sedunia (ILO) pada tahun 1975, dengan menekankan bahwa kebutuhan pokok manusia
tidak mungkin dapat dipenuhi jika pendapatan masih rendah akibat kemiskinan
yang bersumber pada pengangguran. Oleh karena itu sebaiknya usaha-usaha
diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan kebutuhan pokok dan
sejenisnya.
Kebutuhan pokok merupakan kebutuhan yang harus benar - benar
dipenuhi, seperti sandang, pangan, dan papan.
Dalam hal pembangunan Indonesia masih sangat rendah terutama
pada sektor pemenuhan kebutuhan pokok, Indonesia masih jauh dari kata
terpenuhi. Masih banyak masyarakat Indonesia yang kebutuhan pokoknya belum
terpenuhi.
Maka dari itu dilakukan suatu strategi untuk menanggulanginya,
yaitu strategi pendekatan kebutuhan
pokok. Sasaran dalam strategi ini adalah menanggulangi kemiskinan secara
masal. Menghapus kemiskinan di indonesia mungkin hal yang sangat sulit untuk
diwujudkan tapi setidaknya mengurangi kemiskinan dapat diupayakan.
Penanggulangan kemiskinan bisa diupayakan dengan cara – cara berikut antara
lain:
1. Kurangi korupsi, mengurangi
korupsi mungkin lebih mudah daripada memberantas korupsi secara keseluruhan.
Setidaknya dengan berkurangnya korupsi dapat membantu menanggulangi kemiskinan.
2. Percayakan produk lokal dan
kalo bisa dinomorsatukan, mempercayai dan menggunakan produk lokal atau dalam
negeri lebih baik daripada menggunakan produk luar karena dapat membantu Negara
ini sendiri agar semakin berkembang.
3. Tingkatkan mutu barang,
meningkatkan mutu atau kualitas dari suatu barang itu sangat penting, karena
kualitas menentukan kepercayaan konsumen terhadap suatu barang.
4. Maksimalkan pendidikan dan
keterampilan, meningkatkan dan memaksimalkan pendidikan bagi masyarakat, serta
mengajarkan keterampilan bagi masyarakat luas dapat menghasilkan sumber daya
manusia yang unggul sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
5. Jujur, sikap jujur merupakan
suatu pondasi untuk memiliki hidup yang lebih baik. Jujur harus ditanamkan kepada semua orang
agar tidak terjadi hal yang dapat merugikan Negara seperti korupsi.
6. Gigih, untuk menanggulangi
kemiskinan kita harus melakukannya dengan bersungguh-sungguh agar tercapai yang
kita harapkan.
Usaha Strategi selanjutnya dikembangkan oleh Organisasi
Perburuhan Sedunia (ILO) yang menekankan bahwa kebutuhan pokok manusia tidak
mungkin dapat dipenuhi jika pendapatan masih rendah akibat kemiskinan yang
bersumber pada pengangguran. Oleh karena itu sebaiknya usaha-usaha lebih
diarahkan pada penciptaan lapangan pekerjaan bagi pengangguran, peningkatan
pemenuhan kebutuhan pokok, pemberdayaan sumber daya manusia, distribusi pendapatan
dan kekayaan yang merata dan sejenisnya.
Tujuan pemenuhan kebutuhan pokok untuk mengamanatkan bahwa di
antara implikasi dan konsekuensi logis dari doktrin ukhuwah adalah sumber daya
nikmat yang ada harus dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pokok semua
individu sehingga setiap orang mendapatkan standar hidup yang manusiawi, layak
dan terhormat sesuai dengan martabat manusia.
SUMBER :
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1978/11/18/KL/mbm.19781118.KL73266.id.html#
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/04/strategi-pembangunan/
0 komentar on "STRATEGI PEMBANGUNAN INDONESIA"
Posting Komentar